Kanker Payudara Pada Pria

Udah lama g update,, sibuk-sibuk banget , yook saatnya update ,,
Sekarang saya mau bahas masalah kanker pada pria , sebenarnya saya juga baru denger sih , hehehe

Satu dari seratus kanker payudara yang terjadi pada pria dan hal tersebut hal sering terlambat terdeteksi. Kanker ada pada pria dapat terlihat jinak pada pemeriksaan mammography. Tumor payudara pda pria biasanya mudah di raba saat disadari maupun saat timbul gejala yaitu pada saat terjadinya perubahan pada kulit atau pada puting susu. Para dokter menganjurkan agar para pria segera memeriksakan diri bila meninmbulkan benjolan pada pria. Usia lanjut menjadi salah satu faktor pemicu kanker payudara pada pria. Namun ada tiga pemicu laiinya, yaitu :

1. Radiasi
Pria yang telah terkena radiasi di bagian dada memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker payudara, dibandingkan pria yang belum pernah terkena radiasi. Penelitian " Male Breast Cancer Inscdance Among Atomic Bomb Survivors " yang di terbitkan dalam journal of National Cancer Institute menunjukan, orang yang terkena radiasi bom atom di jepang memiliki resiko tinggi terkena kanker payudara.

2. Hormon Estrogen 
Level Estrogen yang tinggi menyebabkan peningkatan pembalahan sel pada payudara. Kondisi ini meningkatkan risiko kelainan sel yang dapat berkembang menjadi sel kanker. Pemicu peningkatan esterogen pada pria meliputi konsumsi obat-obatan, penyakit hati dan sindom klinefelter. Obesitas juga dapat menyebabkan peningkatan kadar estrogen, karena sel-sel lemak diubah tubuh menjadi estrogen.

3. Genetik
Gen BRCA1 dan BCRA2 di ketahui sebagai penyebab pda beberapa kasus kanker payudara. Mewarisi gen tersebut dapat meningktakan risiko kanker payudara pada pria. Menurut National Cancer Institute, seorang yang keluarganya memiliki riwayat kanker payudara, memiliki risiko terkena kanker payudara sebesar 5-10%. American Cancer Society memperkirakan bahwa satu dari lima pria yang menderita kanker payudara, bersaudara dekat dengan laki-laki atau perempuan yang juga terkena kanker payudara. 

Susri Astari
Mahasaraswati University



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+